FK Unair Janji Jaga Keaslian Aula Heritage yang Sudah Berusia 100 Tahun | Info Surabaya


Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) berjanji terus merawat keaslian bangunan heritage kampus, salah satunya Nederlandsche Indische Artsen School (NIAS) yang sekarang dikenal sebagai Aula FK Unair.

Prof. Dr. Budi Santoso Dekan FK Unair menyebut, peringatan usia 100 tahun aula hari ini jadi tantangan untuk melestarikan bangunan cagar budaya sembari terus memanfaatkannya.

“Ini kan gedung heritage atau cagar budaya yang kebetulan kami di FK dapat anugerah untuk bisa belajar di Fakultas Pendidikan. Keberadaan pendidikan dokter Surabaya mendahului gedung ini, itu tahun 1913 dan gedung ini baru dipergunakan pada tahun 1923,” jelasnya saat ditemui Admin InfoSurabaya saat peringatan 100 tahun Aula FK Unair, Rabu (5/7/2023).

Prof Budi Santoso Dekan FK Unair, Rabu (5/7/2023). Foto: Meilita Admin InfoSurabaya

Prof Bus sapaan akrabnya mengakui, bangunan heritage itu sudah tidak seutuhnya asli, mungkin persentasenya di atas 90 persen. Tapi, FK Unair berencana mengembalikan keasliannya jadi 100 persen.

“Ini tantangan kami. TSejauh ini kami masih bisa mempertahankan. Kalau keaslian 100 persen tidak, mungkin keaslian diatas 90 persen. Tapi, tantangan jalan-jalan di sekitar kompleks fakultas kedokteran ini semakin tinggi. Sehingga, saat hujan deras airnya masuk ke gedung heritage yang lebih rendah dari aula. Kalau aula aman karena tempatnya tinggi,” tutur Prof Bus.

Karena merawat bangunan heritage tidak mudah, maka pihaknya berencana menggandeng beberapa arsitek dan ahli dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

“Itu sedang kami pikirkan dan kerja sama dengan arseitek-arsitek dan ITS. Untuk pemeliharaan gedung cagar budaya memang sulit. Tapi, mudah-mudahan ada solusi. Perawatannya nggak mudah. Hampir setiap tahun kami cat, tapi selalu mengelupas . Mungkin butuh cat khusus yang lebih tahan cuaca dan hujan. Bagian atapnya ruang aula ini aslinya juga plituran,” jelasnya lagi.

Mengenai biaya perawatan bangunan heritage itu, Prof Bus enggan menjelaskan detail. Tapi, dia memastikan ada anggaran rutin perbaikan dan perawatan bangunan yang digelontorkan.

“Tidak menghitung terperinci pengecatan ada tembok yang kusam, pengecatan daerah depan hampir setaun rata-rata pengelupas. Cukup besar, banyak tapi tidak pernah mengitung secara khusus. Sejauh ini semua perawatan masih mengunakan anggaran dari FK Unair,” paparnya.

Sementara itu, Freddy H Istanto, Founder Surabaya Heritage Society mengungkapkan, menjaga keaslian bangunan heritage penting dilakukan sebagai bentuk usaha mempertahankan sejarah.

“Meskipun saya tau, kalau dikembalikan ke asli suasana akan beda, suasanya akan gelap karena bagunan dulu identik dengan plitur. Tapi zaman dulu memang seperti itu, justru kalau diganti pernak pernik dan hiasan hilang nilai sejarahnya,” katanya.(lta/bil/rid)