Kadin Jatim Kembali Ajak Dubes Republik Ceko Kerjasama Soal Investasi | Info Surabaya


Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim) kembali mengajak H.E. Jaroslav Dolecek Duta Besar Rebulik Czechia (Dubes Ceko) untuk RI, bekerjasama perihal investasi negara tersebut di Jatim.

Hal tersebut diutarakan Adik Dwi Putranto Ketua Umum Kadin Jatim kepada Jaroslav, saat sang dubes melakukan kunjungan ke kantor Kadin Jatim, di Kota Surabaya, Kamis (20/7/2023) hari ini.

Untuk diketahui, kunjungan sebelumnya, dilakukan Jaroslav pada November 2021 lalu ke Kadin Jatim terkait penjajakan kerjasama berbagai bidang.

Adik mengutarakan alasan ajakan kerjasama tersebut, karena Ceko merupakan salah satu negara Eropa yang ekonominya cukup bagus, dan memiliki banyak potensi untuk dikerjasamakan dengan Jatim. Selain itu, alasan lain yakni neraca perdagangan Jatim dengan negara tersebut selalu mengalami devisit.

“Agar Devisit ini bisa ditekan, maka kami mengajak Czechia (Ceko) untuk berinvestasi di sini. Kami juga mengajak kerjasama peningkatan Sumber Daya Manusia melalui pemagangan dalam rangka mendukung program revitalisasi pendidikan vokasi di Indonesia,” ungkap Adik dalam keterangannya yang diterima Admin InfoSurabaya.

Senada dengan Adik, Prof. Tomy Kayhatu Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Internasional Kadin Jatim di kesempatan yang sama mengatakan, devisit dalam neraca perdaganan dengan Ceko terjadi dalam lima tahun berturut-turut.

Pada tahun 2018, devisit neraca perdagangan mencapai US$ 9,47 juta US dolar. Di tahun 2019, devisit naik menjadi US$ 11,97 juta dengan perincian Ekspor Jatim mencapai US$ 1,78 juta sementara impor jatim dari Czechia mencapai US$ 13,76 juta. Di tahun 2020, devisit Jatim kian tinggi yaitu sebesar US$72,22 juta, tahun 2021 devisit US$ 16,98 juta dan di 2022 devisit masih dikisaran US$ 12,55 juta.

Adapun komoditas ekspor non migas Jatim ke Ceko diantaranya kendaraan dan onderdilnya, aluminium, alas kaki, kayu dan barang dari kayu, perangkat musik, tembakau, mainan, gula dan kembang gula, kertas dan karton serta pakaian jadi bukan rajutan.

Sementara impor Jatim dari Ceko diantaranya adalah mesin dan pesawat mekanik, bahan kimia organik, kendaraan dan bagiannya, lokomotif dan peralatan kereta api, plastik dan barang dari plastik, perkakas, perangkat potong dan lain sebagainya.

“Karena ketika lima tahun minus terus, maka kerjasama ini menjadi tidak seimbang dan tidak baik untuk kedepannya. Kerjasama harus saling menguntungkan. Untuk mengejar ketertinggalan, kami menyarankan agar mereka berinvestasi di Jatim untuk merebut pasar domestik,” kata Tomy.

Begitu juga dengan kerjasama industri kesehatan, lanjut Tomy, rumah sakit dan medical suplay, diarahkan untuk investasi di Jatim karena prospeknya yang sangat besar.

Adapun selain perdagangan dan investasi, kerjasama yang dibahas yakni soal keberlanjutan proyek kereta api. Ini karena Ceko adalah salah satu negara pembuat kereta api di Eropa.

“Karena pembahasannya menyangkut tiga kementerian, Menteri Investasi, Menteri Perhubungan dan Menteri BUMN karena terkait dengan INKA,” katanya.

Terkait dengan kerjasama bidang tenaga kerja, Prof. Tomy mengungkapkan bahwa tren ketenagakerjaan di dunia rata-rata mengalami kekurangan tenaga kerja. Sebaliknya di Indonesia jumlah tenaga kerja cukup banyak.

“Karena kita menjalankan projek revitalisasi pendidikan vokasi, maka kita ingin mengirimkan tenaga kerja ke sana. Selain untuk training dan magang, juga pengalaman kerja disana,” terangnya.

Sejauh ini Kadin Jatim telah melakukan kerjasama pemagangan dengan Jerman dan Jepang. Harapannya, melalui pertemuan ini kerjasama peningkatan tenaga kerja dengan Ceko juga akan terjalin.

Menanggapi ajakan kerjasama itu, Jaroslav menegaskan dengan senang hati. Menurutnya, pertemuan dengan pejabat Kadin Jatim lah, bukti nyata komitmen bersama dalam peningkatan ekonomi kedua belah pihak.

“Kita dapat menemukan pelajaran bersama untuk bekerjasama dan juga mendiskusikan secara terbuka, jelas, konkret untuk menemukan sesuatu yang saling menguntungkan, memiliki prospek dan bermanfaat bagi kedua negara, khususnya Jawa Timur, Surabaya dan Kadin,” ungkapnya.

Ia berharap ekonomi dan bisnis di Indonesia, khususnya Jatim akan terus berkembang. Untuk itu juga lah, dia melakukan kunjungan kali kedua ini.

“Saya datang dengan sesuatu yang konkret. Dari pertemuan kali ini, akhirnya sekarang kami juga tahu potensi kerjasama bidang transportasi, logistik dan pertanian,” pungkasnya. (bil)