Merajut Perbedaan NU dan Muhammadiyah di Hari Lebaran | Info Surabaya

[ad_1]

InterServer Web Hosting and VPS

Ada perbedaan dalam momen perayaan Hari Raya Idulfitri 1444 Hijriah. Antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah tidak menggelarnya secara serentak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Namun, perbedaan itu ada bukan untuk diperdebatkan atau saling menyalahkan. Hadi Sanusi Ketua Ranting Muhammadiyah Kalijudan Surabaya mengatakan, perbedaan itu harus dirawat dan dijaga.

“Perbedaan di dalam Berbangsa dan Bernegara itu biasa. Syaratnya satu, harus ada yang namanya toleransi dan ilmu yang mendasari keimanannya itu,” kata Sanusi waktu ditemui usai Salat Id, Jumat (21/4/2023).

Hari ini, Hadi bersama pengurus Ranting Muhammadiyah menggelar salat Id di Jalan Dr. Ir. Soekarno atau lebih dikenal kawasan Merr. Sekitar seribuan jemaah warga Kalijudan hadir untuk menunaikan Salat Id.

Karena ibadah salat memenuhi dua ruas jalan Merr sepanjang hampir 200 meter, panitia dan petugas kepolisian Polsek Mulyorejo menutup akses jalan selama satu jam sejak 05.30 – 06.30 WIB.

Pengguna Jalan Merr yang menuju arah Utara ke Kenjeran atau Suramadu dialihkan lewat Jalan Kalijudan Timur. Pantuan Admin InfoSurabaya di lokasi, tidak begitu banyak pergerakan kendaraan pagi tadi.

Hadi melanjutkan, tentang perbedaan dalam merayakan Idulfitri merupakan hal yang wajar. Menurutnya, semua pihak punya tanggung jawab masing-masing kepada Allah SWT dalam menentukan kebijakannya.

“Prinsip dari memahami suatu hal ada yang berbeda, kalau Muhammadiyah lebih dari nol (ufuk garis penentu bulan baru atau hilal) yo riyoyo (ya lebaran),” katanya.

Suasana saf jemaah wanita warga Kalijudan yang menggelar Salat Id di Jalan Merr Surabaya, Jumat (21/4/2023). Foto: Wildan Admin InfoSurabaya

Hal senada juga disampaikan Andika Firman warga Mulyorejo yang beribadah di situ. Menurutnya, perbedaan Idulfitri tahun ini tidak ada yang salah, kata dia justru itu bagian keunikan Indonesia.

“Jangan sampai perbedaan itu menjadi perdebatan yang mengakibatkan umat Islam terpecah belah. Bagi saya, warga negara yang baik yang bisa menghargai perbedaan dan toleransi,” katanya.

Sementara itu, Ustad Muhammad Rasyid Khotib Salat Id di Kalijudan dalam ceramahnya mengajak masyarakat supaya lebih mengendalikan amarah dan hawa nafsu pada momen Idulfitri.

Dia mengatakan, semua manusia pasti punya amarah dan nafsu. Tapi, kondisi itu sebetulnya bisa dikendalikan setiap orang.

“Karena setiap orang gampang marah, nah momen Idulfitri ini harusnya kita lebih meningkatkan pengendalian emosi,” tuturnya.

Sedangkan terkait Idulfiri yang tidak dirayakan secara serentak di Indonesia ini, Rasyid menyebut perbedaan merupakan suatu kesatuan seperti prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

“Di dalam Al-Quran surat Ali Imron menegaskan, berpegang teguhlah kalian semua dengan tali agama Allah dan jangan bercerai berai,” pungkas Rasyid.(wld/ihz/rid)



[ad_2]