Pakar Komunikasi Menilai Pemilu Tanpa Kampanye Akbar Akan Terasa Garing | Info Surabaya

[ad_1]

Kampanye akbar atau sering disebut kampanye rapat umum untuk pemilihan umum (Pemilu) 2024 digelar mulai 21 Januari hingga 10 Februari 2024.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menetapkan pelaksanaan kampanye rapat umum untuk partai politik dan pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) pada Pemilu 2024 akan dibagi menjadi tiga zona, yaitu zona A, B, dan C.

August Mellaz anggota KPU RI mengatakan, pembagian zona tersebut merupakan hasil dari rapat koordinasi yang disepakati seluruh partai politik peserta Pemilu dan tim pemenangan pasangan capres-cawapres nomor urut 1, 2, dan 3.

Pembagian ketiga zona disesuaikan secara proporsional dengan jumlah provinsi di Indonesia sesuai zona waktunya.

Setiap pasangan calon presiden dan wakil presiden akan berkampanye rapat umum di zona berbeda setiap harinya.

Pembagian zona kampanye rapat umum untuk partai politik mengikuti jadwal kampanye pasangan calon. Jadi masing-masing partai politik akan mengikuti kampanye capres dan cawapres yang diusung.

Memandang dari aspek strategi komunikasi, Nasrullah Ketua Prodi Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan, kampanye akbar masih sangat relevan untuk dilakukan dewasa ini.

“Sebagai pesta, saya kita itu masih relevan. Namanya juga pesta demokrasi. Jadi para calon pemimpin memanfaatkan momentum itu untuk berpesta bersama pendukungnya. Jadi ini adalah bagian dari show. Hanya memainkan emosional supaya ada kedekatan antara calon dengan para konstituen,” terang Nasrullah dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Rabu (24/1/2024).

Memang, kampanye-kampanye dalam skala kecil juga sudah dilakukan. Akan tetapi, kata Nasrullah, sebagai show of force dengan pengerahan massa, berlangsung dengan banyak orang dan ada hiburannya, hal itu dinilai menarik untuk sebuah pesta.

“Mereka (calon pemilih) datang ke sana pasti sudah memiliki pilihan. Namun untuk meyakinkan bahwa lebih percaya diri untuk memilih itu, nah itu yang paling penting (dalam kampanye akbar),” terang alumnus UMM dan Universitas Indonesia (UI) itu.

Nasrullah menambahkan, idealnya kampanye ini adalah sebuah show yang ada di realitas sosial. Maka tugas dari tim media dari masing-masing pasangan calon untuk memanfaatkannya sebagai show yang bisa dimediakan.

“Kan mereka sudah punya tim media, punya tim media sosial, punya tim wartawan yang kemudian mem-framing sejenis rupa. Pasti banyak angle-angle yang bisa diambil. Dan itu pasti akan menjadi alat kampanye yang cukup bisa mempengaruhi. Terutama orang-orang yang sudah punya pilihan tapi belum yakin, atau yang bahkan belum punya pilihan,” jabarnya.

Nasrullah menambahkan, secara strategi komunikasi pencitraan di media, kampanye akbar sangat penting untuk dilakukan.

“Penting sekali. Jadi dalam teori konformitas misalnya, ada yang disebut sebagai norma sosial. Di mana orang merasa tidak enak kalau tidak bareng-bareng. Nah dengan kampanye akbar ini kan ramai-ramai. Sehingga mereka merasa sudah di tempat yang tepat karena banyak temannya,” jabarnya.

Lantas, apakah kampanye akbar bisa berpengaruh ke pemilih muda atau pemula? Menurut Nasrullah, pemilih muda memang tidak menangkap show dalam kampanye akbar itu. Namun mereka menangkap bagaimana kampanye akbar ini dikemas dan dibagikan ke pelbagai media milik pasangan calon.

Bisa dari testimoni yang paling menarik dalam kampanye itu. Atau yang bersifat call to action. Oleh karena itu, dalam kampanye ini yang terpenting adalah kemampuan berorasi. Memilih kata-kata yang mengandung data yang terlalu menjelimet, atau istilah yang mudah diingat.

Nasrullah sepakat sebuah pandangan bahwa tren elektabilitas masing-masing pasangan calon tidak akan berubah jika hanya mengandalkan mobilisasi massa selama periode kampanye akbar.

Hanya saja ia berpandangan belum bisa membuktikan karena belum ada survei yang diadakan secara ilmiah. Namun jika berpijak dari Pemilu sebelumnya, mungkin bisa seperti itu.

“Pemilu tanpa kampanye akbar itu mungkin garing ya. Karena ini pesta demokrasi, jadi harus ada ya closing pesta setelah kebanyakan debat dan capek mikir data. Kalau visi dan misi sudah disampaikan semua. Tinggal bagaimana ini di rangkum dalam satu kalimat yang lebih lugas, lebih emosional dengan show yang mengembirakan,” tutur Nasrullah. (saf/iss)



[ad_2]