Pakar Komunikasi Politik Sayangkan Aktraksi Gestur Gibran Saat Debat Keempat Pilpres | Info Surabaya



Suko Widodo Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga (Unair) menyoroti dan menyayangkan atraksi gestur dari Gibran Rakabuming Raka calon wakil presiden (cawapres) pasangan calon nomor urut 2 saat menanggapi jawaban dari Mahfud MD cawapres nomor urut 3.

Gibran, saat itu, memeragakan orang yang sedang mencari jawaban tetapi dengan meletakkan tangan kanan di dahi dengan gestur seolah-olah kebingungan mencari sesuatu sambil mengucap “Saya dari tadi mencari jawaban Prof. Mahfud di mana ya?”.

Menurut Suko, apa yang dilakukan oleh cawapres nomor urut 2 saat menanggapi jawaban dari lawan debat atas pertanyaan yang ia berikan tentang inflasi hijau itu, justru membuang waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk menyampaikan isi pembicaraan lebih baik.

“Saya melihat beberapa atraktif gestur komunikasi yang sebetulnya negasi atau mubazir dalam perdebatan itu. Misalnya dari cawapres 02, menurut saya tidak perlu lihat jawabannya kok tidak ada,” katanya seusai menjadi narasumber pakar dalam nonton bareng debat keempat di Suara Surabaya Center, pada Minggu (21/1/2024) malam.

Dalam kesempatan itu, dia juga menyayangkan Mahfud MD yang saat itu membalas dengan gaya atraktif serupa, waktu merespons tindakan Gibran karena jawabannya dibilang tidak sesuai dengan pertanyaan yang diberikan cawapres nomor urut 2 itu.

“Sayangnya Pak Mahfud juga terpancing dengan gaya atraktif itu,” imbuhnya.

Ia mengatakan bahwa dalam sebuah debat, seharusnya tidak hanya berkisar pada what to say, tetapi juga memperhatikan how to say.

“Saya melihat, di debat itu, yang perlu dipahami seharusnya oleh kandidat itu, punya prinsip bahwa bukan sekadar apa yang mereka katakan, tapi bagaimana mereka mengatakan, itu menjadi penting,” ungkapnya.

Karena hal tersebut, lanjut Suko, menjadi cara komunikasi yang berpengaruh terhadap nilai sebuah perdebatan. Selain itu, juga berpengaruh terhadap pandangan publik.

Tetapi, terlepas dari aktraksi gestur itu, ia menyebut debat cawapres tadi malam lebih bagus dibanding debat cawapres pertama.

“Ada diksi-diksi, data-data yang berkait erat dengan masalah, yaitu soal pangan, energi, agraria. Jadi ada kefokusan materi di situ,” katanya.

Ia menilai, Muhaimin Iskandar cawapres paslon 1 mampu mengambil poin pembahasan dengan meletakkan titik penting soal etika, mulai dari etika komunikasi hingga etika lingkungan. Menurutnya, Cak Imin juga konsisten dalam pembahasan desa.

“Jadi, ditujukannya kepada siapa itu jelas, secara konsisten. Itu kelebihannya,” imbuhnya.

Sedangkan Gibran cawapres paslon 2, menurutnya memiliki kelebihan dalam menyampaikan progam yang detail dan mampu menjelaskan secara informatif.

“Hal itu membuat orang tahu, cukup prospektif, inovatif, tawaran-tawaran energi baru dan lain sebagainya,” ucapnya.

Kemudian Mahfud MD cawapres paslon 03 menurutnya juga memiliki kemampuan dalam mengutarakan gagasan dengan lugas.

“Pak Mahfud juga punya sikap yang jelas, seperti mafia tanah, mafia hukum harus disikat. Ketika ada ketidakberdayaan, dan dia membutuhkan sikap ke depan, dia akan melakukan itu,” paparnya.

Semua cawapres dari ketiga paslon menurutnya, bermain sama-sama dengah pola komunikasi dan kapasitas mereka masing-masing. (ris/bil/ham)