Perhatikan 5 Hal Penting Ini Agar Keracunan Olahan Daging Kurban Tidak Terulang | Info Surabaya


Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya meminta warga tak khawatir berlebihan dengan menjalankan lima cara untuk mengonsumsi olahan daging kurban.

Imbauan tersebut usai peristiwa keracunan massal terhadap 71 warga Kalilom Lor Gang Seruni II Tanah Kali Kedinding, Kenjeran, Surabaya pekan lalu saat tasyakuran Hari Raya Iduladha.

Nanik Sukristina Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya menyebut, meski belum dipastikan penyebab keracunan karena olahan daging dari hasil laboratorium, ada baiknya warga waspada.

Cara pertama, lanjutnya, proses penyembelihan daging hewan kurban harus higienis juga didistribusikan segera, maksimal dua jam.

“Daging mempunyai kandungan protein dan mudah membusuk sehingga harus segera didistribusikan tidak lebih dari 2 jam dan diolah atau disimpan di kulkas untuk mempertahankan kualitasnya. Kalau disimpan daging tidak perlu dicuci,” katanya, Selasa (4/7/2023).

Terutama untuk penanganan daging kambing, tambahnya, harus lebih ekstra karena mudah rusak.

“Kambing dengan kandungan protein lebih tinggi bisa bertahan kurang dari 6 jam dalam suhu ruangan, sehingga jika lebih dari 6-10 jam maka daging cenderung sudah rusak,” ujar Nanik.

Cara kedua, proses memasak atau mengolah daging menjadi makanan, juga harus melaui tahapan serba higienis.

“Memastikan sebelumnya semua bahan pangan yang akan dikonsumsi dicuci bersih, higienis dan diolah atau dimasak dengan baik dan benar-benar matang, dengan suhu lebih dari 70 derajat celcius,” imbuhnya.

Cara ketiga, semua bumbu yang dipakai untuk memasak pun harus dipastikan aman dan belum kadaluarsa.

“Mengecek kembali bahan tambahan lainnya seperti bumbu yang digunakan atau bahan kemasan sebagai pendukung pengolahan bahan pangan aman dan masih belum kadaluarsa,” tutur Nanik.

Cara keempat, menjaga kebersihan saat akan memakan makanan hasil olahan. Termasuk memerhatikan tanda-tanda olahan daging rusak.

“Menjaga kebersihan makanan yang akan dikonsumsi, mencuci tangan sebelum makan, dan jangan menyantap makanan yang sudah berbau tidak sedap, berlendir, atau berjamur,” ujarnya.

Terakhir, ia mengingatkan lagi soal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sehari-hari.

“Dalam berkegiatan sehari-hari secara disiplin dan konsisten untuk mencegah risiko penularan penyakit baik dari lingkungan maupun dari bahan pangan yang dikonsumsi,” tandasnya.

Sekedar diketahui, Nanik menyebut dari total 71 korban yang keracunan, kini sudah menyisakan 19 orang, di antaranya masih rawat inap dari semula 44 orang.

Jumlah ini per pukul 12.00 WIB kemarin, Senin (3/7/2023) sekaligus mengklarifikasi pernyataannya sebelumnya menyebut masih ada 28 orang dirawat.

Pernyataan itu berbeda dengan Dokter Era Kartikawati Kepala Puskesmas Tanah Kali Kedinding yang menyebut dari 71 orang keracunan, 26 di antaranya dilarikan ke faskes saat dikonfirmasi Sabtu (1/7/2023).

Hingga kini, hasil lab semua pasien dan olahan daging kurban yang tersisa, belum keluar. (lta/fra/iss)