Portable Ultrasound Buatan PENS Mempermudah Pemeriksaan Jantung | Info Surabaya


Tim peneliti bidang biomedis Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) berhasil mengembangkan portable ultrasound, sebuah alat pemeriksaan jantung portable.

Riyanto Sigit selaku ketua tim peneliti menyatakan, inovasi alat tersebut dibuat karena dirinya bersama tim melihat adanya antrean panjang di rumah sakit dalam melayani pasien, terutama pasien sakit jantung.

“Selama ini untuk cek jantung biasanya pasien yang datang ke ruangan khusus ultrasound. Nah, dalam kondisi tertentu pasti akan sulit dilakukan, seperti pasien kritis penyakit jantung, apalagi melihat luasnya Indonesia, tentunya tidak seluruhnya dapat terlayani. Di pelosok tanah air bahkan, terkadang petugas kesehatan, lah, yang harus mendatangi suatu daerah untuk memberikan layanan,” jelas Riyanto dalam keterangannya, Sabtu (8/4/2023).

Menurutnya alat tersebut dapat menjadi solusi pelayanan. Karena jika dibandingkan dengan ultrasound yang ada di rumah sakit, dimensi alat hasil penelitiannya itu relatif lebih ringkas, sehingga memungkinkan dibawa berpindah-pindah.

Selain itu, dia mengungkapkan portable ultrasound itu juga mampu memberikan diagnosa pada pasien dengan lebih presisi. “Jadi alat ini sifatnya membantu memberikan gambaran kondisi jantung pasien,” ucapnya.

Cara kerja alat tersebut dimulai dari pemindaian area dada pasien menggunakan alat ultrasound. Baru kemudian akan diperoleh data berupa video jantung yang diambil dari berbagai sudut pemeriksaan.

Portable ultrasound pun lantas melakukan pengiriman data melalui komunikasi wireless dengan smartphone. Berikutnya hasil video itu dikirimkan ke PC dengan komunikasi USB. Setelah data diterima akan dilakukan pre-processing dan segmentasi. Dan di tahap ini gambar atau citra yang bebas dari noise sangat dibutuhkan guna mempertajam kualitasnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, hasil segmentasi diperoleh area kontur rongga jantung dengan tingkat akurasi rata-rata 86,6 persen, yang hasilnya digunakan untuk melakukan pelacakan jantung.

“Dengan hasil segmentasi yang cepat dan akurat maka akan memudahkan pengguna untuk mengobservasi kondisi jantungnya sendiri, apakah dalam kondisi normal atau tidak,” tambahnya.

Sedangkan untuk harga, kata Riyanto ada di kisaran 120 juta, berbeda dengan perangkat ultrasound yang berada di kisaran Rp1-2 miliar, sehingga hanya tersedia di rumah sakit besar.

Ke depan, tim peneliti yang terdiri dari Tita Karlita, Moh. Johan, Churun In, dan dr. Taufiq Tidayat dari RS Unair itu, akan terus mengembangkan riset biomedis yang berhubungan dengan deteksi jantung, terutama untuk mengembangan Portable Ultrasound. Salah satunya adalah akan melakukan perubahan packaging.

“Saya ingin mengubah dimensinya, menjadi seukuran koper atau laptop, sehingga makin memudahkan layanan kepada pihak pasien maupun perawat yang bertugas, dan tentunya dengan kapasitas gambar yang lebih baik lagi. Semoga semua bisa terwujud di tahun depan,” pungkasnya. (ris/bil/iss)