PSSI Jatim Ajak Semua Bangkit, dan Ambil Pelajaran dari Penolakan FIFA | Info Surabaya


Dyan Puspito Rini Sekretaris Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur (Jatim) mengakui, pihaknya saat ini sangat kecewa dan menyayangkan keputusan FIFA mencoret Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023.

“Ketika kita sudah ada kesempatan di depan mata, lalu kita siapkan dan gagal karena faktor-faktor di luar sepak bola, sangat wajar kalau hari ini, kita (seluruh masyarakat Indonesia) sangat bersedih dan berduka,” ungkapnya kepada Radio Suara Surabaya.

Dia mengungkapkan bahwa gelaran sepak bola Akbar tersebut sejatinya bisa jadi obat seluruh pecinta bola. Terlebih, sepak bola Indonesia yang akhir-akhir ini mengalami banyak ujian berat, mulai adanya pandemi hingga munculnya tragedi Kanjuruhan Oktober 2022 lalu.

“Lalu sekarang ketika kita berharap obatnya (Piala Dunia) akan datang untuk memaksimalkan lagi perkembangan sepak bola, ternyata harus kita terima pil pahit (pencoretan status tuan rumah Piala Dunia). Tapi bagaimana lagi hidup memang harus terus berjalan, live must go on,” ujarnya.

Ririn menjelaskan kalau selama ini seluruh elemen dan pemangku kepentingan (stakeholder) sudah bekerja keras memperjuangkan event akbar tersebut, tepatnya sejak tahun 2018. “Puncaknya fokus kita untuk persiapan di delapan bulan terakhir,” imbuhnya.

Seluruh upaya tersebut, kata dia, semata demi memberikan wadah dan jaminan kepada generasi sepak bola Tanah Air di kancah internasional yang lebih tinggi.

Apalagi, dengan peringkat Indonesia saat ini yang ada di urutan 150, perjalanan untuk berkancah di turnamen sekelas Piala Dunia akan sangat panjang diluar konteks sebagai tuan rumah.

Dia juga menegaskan setelah enam lokasi venue diverifikasi dan disetujui FIFA, seluruh kepala daerah hingga kepala negara-nya sudah menandatangani kesiapan dan kesanggupan.

“Termasuk menerima aturan FIFA tentang siapapun yang akan hadir di negara kita. Dan di hitungan hari akan pelaksanaan, tiba-tiba ada yang memutuskan bersurat secara resmi menolak pegelaran ini karena syarat-syarat lain. Itu yang disesalkan,” jelasnya.

Pihak Asprov Jatim pun, sebisa mungkin akan mencarikan penawar luka dengan kegiatan-kegiatan yang belum bisa terlaksana sebelumnya.

“Kita punya agenda liga 3, lalu agenda tambahan liga anak nasional yang selama ini belum pernah ada,” ungkapnya.

Ririn berharap agar seluruh insan sepak bola tanah air bisa bangkit dan menjadikan ini semua sebagai pelajaran. Membina sepak bola dari akar rungkut, mulai dari pemain hingga perangkat pertandingan.

“Dan itu hanya bisa dilakukan bersama-sama, tanpa menunjuk jari siapa yang bersalah,” pungkasnya. (bil/rst)